KEKELIRUAN YANG TERJADI DALAM PENELITIAN HUKUM NORMATIF

KEKELIRUAN YANG TERJADI DALAM

PENELITIAN HUKUM NORMATIF

Oleh :

Agung Yuriandi (087005039)

Pendahuluan

Agar dapat menguasai masalah Metode Penelitian Hukum (dan bukan sekedar mengadopsi Metode Penelitian ilmu-ilmu nonhukum untuk di ”hukum” kan), harus diawali dengan penguasaan Teori Hukum (yang salah satu materinya adalah Filsafat Hukum) secara mendalam.[1]

Riset atau penelitian sering dideskripsikan sebagai suatu proses investigasi yang dilakukan dengan aktif, tekun, dan sistematik, yang bertujuan untuk menemukan, menginterpretasikan, dan merevisi fakta-fakta. Penyelidikan intelektual ini menghasilkan suatu pengetahuan yang lebih mendalam mengenai suatu peristiwa, tingkah laku, teori, dan hukum, serta membuka peluang bagi penerapan praktis dari pengetahuan tersebut. Istilah ini juga digunakan untuk menjelaskan suatu koleksi informasi menyeluruh mengenai suatu subjek tertentu, dan biasanya dihubungkan dengan hasil dari suatu ilmu atau metode ilmiah. Kata ini diserap dari kata bahasa Inggris research yang diturunkan dari bahasa Perancis yang memiliki arti harfiah “menyelidiki secara tuntas”.[2]

Pada pembahasan ini, bukan membicarakan masalah penelitian yang umum tetapi hal tersebut hanya mengantarkan dalam sebuah definisi penelitian hukum menurut Soerjono Soekanto merupakan suatu kegiatan ilmiah, yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu, dengan jalan menganalisanya. Kecuali itu, maka juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan yang timbul di dalam gejala yang bersangkutan.[3]

Penelitian hukum normatif merupakan kegiatan sehari-hari seorang sarjana hukum. Maka, penelitian hukum normatif (legal research) biasanya hanya merupakan studi dokumen, yakni menggunakan sumber-sumber data sekunder saja yang berupa peraturan perundang-undangan, keputusan pengadilan, teori hukum, dan pendapat para sarjana. Itu pula sebabnya digunakan analisis secara kualitatif (norma-kualitatif) karena datanya bersifat kualitatif.[4]

Belakangan ini selalu terjadi perdebatan antara penelitian hukum normatif dan penelitian hukum empiris. Penelitian hukum yang bagaimana seharusnya dilakukan oleh seorang sarjana hukum adalah pertanyaan yang timbul ke permukaan. Selanjutnya dibahas mengenai kekeliruan yang terjadi dalam penelitian hukum normatif.

Tipologi Penelitian Hukum

Sebelum membahas mengenai kekeliruan yang terjadi dalam penelitian hukum normatif, hendaknya mengetahui masalah tipologi penelitian hukum.

Di dalam dunia penelitian termasuk penelitian hukum dikenal berbagai jenis/ macam dan tipe penelitian. Perbedaan ini didapat melalui dari sudut mana seorang peneliti memandang atau meninjaunya. Penentuan penelitian hukum yang ingin dilakukan adalah suatu hal penting karena memiliki kaitan erat antara jenis penelitian itu dengan sistematika dan metode serta analisis data yang harus dilakukan untuk setiap penelitian.[5]

Secara khusus menurut jenis, sifat dan tujuannya suatu penelitian hukum yang oleh Soerjono Soekanto dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu penelitian hukum normatif, dan penelitian hukum sosiologis/ empiris.

Penelitian Hukum Normatif

Penelitian hukum normatif dapat berupa inventarisasi hukum positif, usaha-usaha penemuan azas-azas dasar falsafah (doktrin) hukum positif, usaha penemuan hukum (in concreto) yang sesuai untuk diterapkan guna penyelesaian perkara tertentu.[6]

Dalam penelitian pada umumnya untuk menentukan jenis dari suatu penelitian itu dibedakan antara data yang diperoleh langsung dari masyarakat dan dari bahan-bahan pustaka. Yang diperoleh langsung dari masyarakat dinamakan data primer (atau dasar), sedangkan yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka lazimnya dinamakan data sekunder.[7]

Data sekunder mencakup[8] :

  1. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat dan terdiri dari : 1. Norma (dasar) atau kaidah dasar, yaitu Pembukaan UUD 1945; 2. Peraturan Dasar : mencakup diantaranya Batang Tubuh UUD 1945 dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat; 3. Peraturan Perundang-undangan; 4. Bahan hukum yang tidak dikodefikasikan, seperti hukum adat; 5. Yurisprudensi; 6. Traktat; 7. Bahan hukum dari zaman penjajahan yang hingga kini masih berlaku;
  2. Bahan hukum sekunder, yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti Rancangan Undang-Undang, hasil-hasil penelitian, hasil karya dari kalangan hukum dan seterusnya; dan
  3. Bahan hukum tertier, yakni bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder; contohnya adalah kamus, ensiklopedia, indeks kumulatif dan sebagainya.

Dalam pelaksanaan penelitian hukum normatif secara garis besar akan ditujukan kepada[9] :

  1. Penelitian terhadap asas-asas hukum

Seperti misalnya penelitian terhadap hukum positif yang tertulis atau penelitian terhadap kaidah-kaidah hukum yang hidup di dalam masyarakat.

  1. Penelitian terhadap sistematika hukum

Penelitian ini dapat dilakukan pada perundang-undangan tertentu ataupun hukum tercatat. Tujuan pokoknya adalah untuk mengadakan identifikasi terhadap pengertian-pengertian pokok/ dasar dalam hukum, yakni masyarakat hukum, subyek hukum, hak dan kewajiban, peristiwa hukum, hubungan hukum dan obyek hukum. Penelitian ini sangat penting oleh karena masing-masing pengertian pokok/ dasar mempunyai arti tertentu dalam kehidupan hukum.

  1. Penelitian terhadap sinkronisasi hukum

Dalam penelitian terhadap taraf sinkronisasi baik vertikal maupun horizontal, maka yang diteliti adalah sampai sejauh manakah hukum positif tertulis yang ada serasi. Hal ini dapat ditinjau secara vertikal, yakni apakah peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi suatu bidang kehidupan tertentu tidak saling bertentangan, apabila dilihat dari sudut hirarki perundang-undangan tersebut. Sedang apabila dilakukan penelitian taraf sinkronisasi secara horisontal, maka yang ditinjau adalah perundang-undangan yang sederajat yang mengatur bidang yang sama.

  1. Penelitian terhadap perbandingan hukum

Merupakan penelitian yang menekankan dan mencari adanya perbedaan-perbedaan yang ada serta persamaan pada berbagai sistem hukum.

  1. Penelitian terhadap sejarah hukum

Merupakan penelitian yang lebih dititik beratkan pada perkembangan-perkembangan hukum. Biasanya dalam perkembangan demikian, pada setiap analisa yang dilakukan akan mempergunakan perbandingan-perbandingan terhadap satu atau beberapa sistem hukum.

Penelitian Hukum Sosiologis/ Empiris

Penelitian hukum empiris mengungkapkan hukum yang hidup (living law) dalam masyarakat melalui perbuatan yang dilakukan oleh masyarakat. Empirical law research, yaitu penelitian hukum positif tidak tertulis mengenai perilaku anggota masyarakat dalam hubungan hidup bermasyarakat.[10]

Penelitian hukum empiris memperoleh data dari data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari masyarakat sebagai sumber pertama dengan melalui penelitian lapangan, yang dilakukan baik melalui pengamatan, wawancara ataupun penyebaran kuesioner. Penelitian hukum sebagai penelitian sosiologis (empiris) dapat direalisasikan kepada penelitian terhadap efektivitas hukum yang berlaku ataupun penelitian terhadap identifikasi hukum.[11]

Kekeliruan yang Terjadi dalam Penelitian Hukum Normatif

Adapun kekeliruan yang terjadi dalam penelitian hukum normatif, antara lain :

  1. Para peneliti biasanya hanya membaca sejumlah buku-buku terjemahan, seharusnya membaca langsung dari karya-karya aslinya (yang membutuhkan minimal penguasaan bahasa aslinya, dalam hal ini bahasa Inggris) dari para pemikir hukum terkemuka yang dikenal dalam khazanah hukum;[12]
  2. Peneliti-peneliti hukum tidak mendalami teori hukum (yang salah satu subjeknya adalah Filsafat Hukum), karena di dalamnya itulah dapat dipahami masalah ontologis (hakikat, eksistensi, sifat, watak keilmuan) ilmu yang mau diteliti;[13]
  3. Sejak akhir abad ke-20, di negara-negara maju berlangsung penolakan keras terhadap penelitian hukum normatif, dan hanya mengakui penelitian hukum empiris sebagai penelitian ilmiah. Salah satunya simposium yang diselenggarakan 1992 di Nijmegen yang membahas : ”de wetenschappelijkheid van de juridische opleiding” (watak keilmuan dari pendidikan hukum);[14]
  4. Format penelitian, adanya kedangkalan terhadap pengetahuan hukum yang menyatakan bahwa peneliti sekarang bicara ilmu hukum itu bukan ilmu. Jika, bukan ahli hukum maka akan sulit untuk menemukan issue hukum;[15]
  5. Penggunaan istilah dan hipotesis. Sumber data seharusnya dalam penelitian hukum disebut dengan sumber bahan hukum; teknik pengumpulan data seharusnya dalam penelitian hukum disebut teknik pengumpulan bahan hukum; analisis data seharusnya dalam penelitian hukum disebut dengan analisis bahan hukum; dan perumusan masalah seharusnya dalam penelitian hukum disebut dengan menemukan issue hukumnya;[16]
  6. Penggunaan content analysis[17]. Hal ini haruslah digunakan pada penelitian hukum empiris dikarenakan berbicara mengenai keefektifan dan legitimasi hukum;[18]
  7. Seringkali penelitian hukum mengkaji masalah perilaku masyarakat seharusnya bicara masalah efektif atau tidak suatu peraturan perundang-undangan itu dibuat.[19]

Penelitian Ilmiah Hukum adalah EMPIRIS

Ilmu hukum diakui sebagai suatu ilmu, maka objeknya seyogjanya adalah hukum yang hidup di kalangan masyarakat. Hukum yang benar-benar ada, faktual, dan bukan dalam wujud norma ideal, yang merupakan objek filsafat.

Akhirnya sebagian besar ilmuwan kontemporer di Eropa dan Amerika Serikat terakhir ini mencanangkan abad ke-21 sebagai : The Death of Traditional Jurisprudence, era senjakala kajian hukum tradisional (normatif), dan munculnya ilmu hukum yang sebenarnya (empiris).[20]

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Achmad. Penelitian Ilmiah Hukum adalah Empiris. www.fajaronline.com. Diakses 08 April 2009.

Cahyadi, Antonius dan E. Fernando M. Manullang. Pengantar ke Filsafat Hukum. Ed. 1. Cet. 1. Kencana. Jakarta. 2007.

Nasution, Bismar. Catatan Perkuliahan : Filsafat Hukum. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Medan. 2009.

Nur, Muliadi. Tipologi Penelitian Hukum. Pojok Hukum Online Media Belajar Hukum dan Ilmu Hukum. Diakses 08 April 2009.

Santoso, Topo. Penulisan Proposal Penelitian Hukum Normatif. Disampaikan dalam ”Pelatihan Penelitian Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia” pada tanggal 25 April 2005 di Depok.

Syahrin, Alvi. Catatan Perkuliahan : Metode Penelitian Hukum. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Medan. 2009.

Wikipedia. Riset. http://id.wikipedia.org/wiki/Penelitian. Diakses 8 April 2009.

Wikipedia. Konten Analisis. www.wikipedia.com. Diakses 08 April 2009.


1. Alvi Syahrin. Catatan Perkuliahan : Metode Penelitian Hukum. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Medan. 2009.

3. Topo Santoso. Penulisan Proposal Penelitian Hukum Normatif. Disampaikan dalam ”Pelatihan Penelitian Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia” pada tanggal 25 April 2005 di Depok. h. 2.

4. Ibid. h. 3.

5. Muliadi Nur. Tipologi Penelitian Hukum. Pojok Hukum Online Media Belajar Hukum dan Ilmu Hukum. Diakses 08 April 2009.

6. Topo Santoso. Loc.cit. h. 3.

7. Muliadi Nur. Loc.cit.

8. Muliadi Nur. Loc.cit.

9. Muliadi Nur. Loc.cit.

10. Lihat dalam http://hukum.uns.ac.id/downloadmateri.php?id=120. Diakses 08 April 2009.

11. Muliadi Nur. Op.cit.

12. Alvi Syahrin. Op.cit.

13. Bismar Nasution. Catatan Perkuliahan : Filsafat Hukum. Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Medan. 2009. Mengatakan bahwa : ”Filsafat hukum diperlukan untuk mendobrak pemikiran awal mengenai logika peraturan dalam hal ini aliran hukum positifis”.

14. Achmad Ali. Penelitian Ilmiah Hukum adalah Empiris. www.fajaronline.com. Diakses 08 April 2009.

15. Alvi Syahrin. Op.cit.

16. Alvi Syahrin. Op.cit.

17. Content Analysis adalah metodologi dalam ilmu sosial untuk mempelajari isi dari komunikasi. Wikipedia. Konten Analisis. www.wikipedia.com. Diakses 08 April 2009.

18. Alvi Syahrin. Op.cit.

19. Alvi Syahrin. Op.cit.

20. Achmad Ali. Op.cit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: